Thursday, March 17, 2011

Masashi Kishimoto: Pengarang Naruto

"Naruto dibuat berdasarkan citra diri saya di masa lalu, tapi berbeda dengan saya yang sebenarnya," kata Masashi Kishimoto (34), pengarang dan pencipta serial manga Naruto.

Sejak dulu Masashi memang sudah tergila-gila dengan manga, terutama serial Dragon Ball dan Akira. Karena hobi manggambarnya membuat dia super sibuk, sampe-sampe dia menduduki ranking 30 di kelas SMU-nya... dari total 31 murid!

Di umurnya sekarang, Masashi telah menjadi salah satu manga-ka yang paling sukses dalam sejarah Jepang. Serial komik Naruto telah terjual puluhan juta eksemplar tak hanya di Jepang, tapi juga di seluruh dunia. Dia sama sekali tidak pernah bermimpi kalo Naruto bisa laris manis di luar jepang.

Naruto pertama kali terbit pada tahun 1997 dalam bentuk manga pendek. Pada tahun 1999, Naruto versi baru (dimana hokage ke-4 berhasil mengunci rubah berekor sembilan dalam tubuh seorang bayi) akhirnya diterbitkan di majalah mingguan Shonen Jump, juga dalam bentuk komik pendek.

"Pada waktu menciptakan karakter Naruto, saya membayangkan seorang anak laki-laki yang nakal, seperti saya. Tapi saya adalah anak yang gampang menyerah, karena itu saya mau Naruto berbeda dengan saya."

Selain Dragon Ball dan Akira, Masashi jugs merasa berterima kasih atas manga-manga yang selama ini telah membantunya menciptakan Naruto, seperti Jin-Roh: The Wolf Brigade, Ninku, dan Ghost in the Shell yang telah sukses di pasaran internasional.



Setting GPRS Otomatis

Setting GPRS secara otomatis

KartuHALO
Ketik sms : GPRS kirim ke 6616 dan MMS ke 6616

kartu simPATI
Ketik sms : GPRS kirim ke 6616 dan MMS dan kirim ke 6616.
Nomor kode adalah enam belas digit angka yang terdapat di balik kartu SIM Card dalam format empat angka bertumpuk empat. Misalnya GPRS 6210009922069556

Indosat

Matrix
Ketik sms: ACT GPRS kirim ke 888 dan ACT MMS kirim ke 888

Mentari
Ketik sms: ACT MMS kirim ke 888 (hanya MMS, karena Mentari belum enyediakan layanan GPRS)

IM3
Cara mengaktifkan GPRS/MMS
Otomatis aktif perdananya

XL
Hubungi Layanan Pelanggan di nomor 818 dari ponsel anda atau ke (021) 579 59818 atau kunjungi XL Shop Terdekat.

Setting GPRS secara Manual

GPRS Telkomsel
Connection Name : Telkomsel
Data Bearer : GPRS
Access Point Name : telkomsel
Username : wap
Prompt Password : No
Password : wap123
Authentication : Normal
Proxy address : 10.1.89.130
Homepage : http://wap.telkomsel.com
Connection Security : Off
Session Mode : Permanent

Setting GPRS Matrix
Connection Name : Satgprs
Data Bearer : GPRS
Access Point Name : satelindogprs.com
Username : (kosongkan)
Prompt Password : No
Password : (kosongkan)
Authentication : Normal
Proxy address : 202.152.162.250
Homepage : http://satwap
Connection Security : Off
Session Mode : Permanent

Setting GPRS IM3
Connection Name : M3-gprs
Data Bearer : GPRS
Access Point Name : www.indosat-m3.net
Username : gprs
Prompt Password : No
Password : im3
Authentication : Normal
Proxy address : 010.019.019.019
Homepage : http://wap.indosat-m3.net
Connection Security : Off
Session Mode : Permanent

Setting GPRS XL
Connection Name : XL-gprs
Data Bearer : GPRS
Access Point Name : www.xlgprs.net
Username : xlgprs
Prompt Password : No
Password : proxl
Authentication : Normal
Proxy address : 202.152.240.50
Homepage : http://wap.lifeinhand.com
Connection Security : Off
Session Mode : Permanent

Setting MMS

Setting MMS Telkomsel
Connection Name: tel-MMS
Data Bearer: GPRS
Access Point Name: mms
Username: wap
Prompt Password: No
Password: wap123
Authentication: Normal
Proxy address: 10.1.89.150
Homepage: http://mms.telkomsel.com/
Connection Security: Off

Setting MMS Mentari dan Matrix
Connection Name : sat-MMS
Data Bearer : GPRS
Access Point Name : mms.satelindogprs.com
Username : satmms
Prompt Password : No
Password : satmms
Authentication : Normal
Proxy address : 202.152.162.88
Homepage : http://mmsc.satelindogprs.com.
Connection Security : Off

Setting MMS IM3
Connection Name : M3-MMS
Data Bearer : GPRS
Access Point Name : mms.indosat-m3.net
Username : mms
Prompt Password : No
Password : im3
Authentication : Normal
Proxy address : 010.019.019.019
Homepage : http://www.mmsc.m3-access.com
Connection Security : Off

Setting MMS XL
Connection Name : XL-MMS
Data Bearer : GPRS
Access Point Name : www.xl.mms.net
Username : xlgprs
Prompt Password : No
Password : proxl
Authentication : Normal
Proxy address : 202.152.240.50
Homepage : http://mmc.xl.net.id/sevlets/mms
Connection Security : Off

Layanan Perpustakaan Virtual


LAYANAN PERPUSTAKAAN VIRTUAL

Lebih dari 5 tahun secara umum perpustakaan memiliki konsep tidak hanya bertatap muka (www) telah di terima oleh masyarakat. Banyak perpustakaan telah siap mengembangkan perpustakaan virtual yang menambahkan dengan akses lokal atau gerbang layanan informasi menuju akses database dari makelar komersial. Direktori Internet 'YAHOO' saat daftar sekitar 400 perpustakaan akademik dengan kehadiran web: jumlah ini hampir dua kali lipat hanya dalam dua tahun terakhir. Dalam beberapa aspek, kebutuhan antarmuka desain yang sama untuk kedua perpustakaan fisik dan virtual, karena tujuan mereka adalah sama: untuk membawa user ke informasi yang dibutuhkan dengan sebagai intervensi dari luar kecil (dengan kata lain, bantuan dari perpustakaan) mungkin. Ada, namun beberapa perbedaan yang sangat penting antara perpustakaan tradisional dan virtual.
Tidak ada koleksi fisik tercetak atau non tercetak di dalam perpustakaan virtual. Meskipun pengguna tidak dapat menelusuri tumpukan buku di area subjek atau tempat lain. melalui jurnal dengan call number yang berdekatan untuk melihat apakah mereka mungkin akan menemukan materi yang relevan, mereka masih dapat menelusuri daftar atau direktori sumber daya informasi elektronik. Sebagai contoh, salah satu fitur dari beberapa sistem katalog otomatis akses publik (misalnya Interface Inovatif, Sirsi / Unicorn), adalah kemampuan untuk menampilkan daftar judul yang meliputi beberapa judul baik sebelum dan setelah call number yang dipilih oleh pengguna.
Kebanyakan perpustakaan universitas virtual akan memiliki semacam "Help Desk" diakses melalui e-mail, telepon atau bentuk berbasis web. Apa keuntungan pengguna dalam kenyamanan tidak harus pergi ke perpustakaan fisik mungkin diimbangi oleh kurangnya bimbingan profesional tatap muka, meskipun banyak perpustakaan menciptakan panduan elektronik dan akses email ke pustakawan. Database elektronik yang dapat menggantikan indeks cetak dan dapat diakses di web, semakin sering ditawarkan oleh makelar.
Perpustakaan universitas negara arizona (ASU), saat ini memiliki index lebih dari 100 jurnal dan database tersedia melalui halaman web mereka. Ini termasuk proyek MUSE koleksi jurnal elektronik,literatur online, buku online,buku tercetak,ensiklopedia Britannica Online, Disertasi Abstrak International, ERIC,medline,psycInfo,UnCover,Mental Measurements yearbook,merriam-webster collegiate dictionary dan Periodicals Internasional.
Banyak dari sumber daya ini masih dipertahankan dalam Perpustakaan ASU di cetak dari, tapi format yang mulai melenyap sebagai pengguna semakin banyak permintaan manfaat sumber daya digital: kemampuan untuk melakukan pencarian kata kunci, ketersediaan update lebih sering, dan - paling penting untuk virtual akses mahasiswa-untuk semua informasi ini dari rumah dan kantor melalui internet. desainer Antarmuka untuk Perpustakaan Kongres menciptakan sebuah "meja informasi virtual" sebagai link pertama di mana pengguna sangat dianjurkan untuk memulai kunjungan mereka. Para desainer mengidentifikasi lima klasifikasi pencari:
1.      Wisatawan/ penjelajah
2.      Peneliti orang baru
3.      Peneliti secara kebetulan
4.      Ahli peneliti dan
5.      Guru.
Tujuan dari desain ini adalah untuk memberikan bantuan disesuaikan dengan meminta pengguna untuk mengklasifikasikan peran mereka dan kebutuhan informasi. Para desainer harus selalu bertatap muka untuk  menyadari pengguna mereka, 'kebutuhan dan berinteraksi dengan mereka pada tingkat yang diperlukan Kekurangan banyak desain adalah kurangnya pemahaman kebutuhan pengguna dan pertimbangan cukup perlu ditangani . Tujuan utama dari grafis untuk antarmuka perpustakaan virtual harus memandu pengguna ke informasi yang mereka cari, tidak hanya untuk membuat halaman web lebihmenarik.

pustakawan harus melayani tujuan menyampaikan makna bahan pustaka untuk membantu pengguna menemukan informasi yang mereka cari. Ada bukti bahwa banyak ikon yang digunakan pada halaman web perpustakaan sulit bagi pengguna untuk menafsirkan dan benar-benar menghalangi daripada membantu pengguna. Selain itu, ukuran file grafis harus dipertimbangkan:kecil kemungkinan para pengguna yang mungkin punya koneksi internet kecepatan rendah tidak ingin dibebani dengan waktu download yang berlebihan untuk gambar yang tidak benar-benar diperlukan. Beberapa bentuk instruksi perpustakaan perlu dibangun ke dalam antarmuka, karena banyak pengguna membutuhkan bimbingan tentang pemilihan database yang tepat untuk tujuan-tujuan mereka, dan begitu mereka sampai di sana, membantu dalam menemukan informasi yang dibutuhkan.

Semua pustakawan yang akrab dengan pelanggan yang bersikeras bahwa mereka "butuh buku" ketika tugas mereka dengan jelas menyerukan jurnal artikel-atau mereka yang "ingin mencari di internet", walaupun pustakawan menyadari bahwa salah satu CD-ROM perpustakaan database akan memberikan materi yang tepat jauh lebih cepat. Situasi ini berubah dengan cepat, tetapi: terutama dalam pengaturan akademik, pustakawan semakin banyak berbagi keahlian mereka dengan pengguna dengan mengembangkan antarmuka dan sumber daya online untuk membantu memandu pengguna perpustakaan dalam pencarian mereka melalui database elektronik.

Saturday, March 12, 2011

PENGARUH DESAIN INTERIOR TERHADAP KEPUASAN PENGGUNA


PENGARUH DESAIN INTERIOR TERHADAP KEPUASAN PENGGUNA

I.         LATAR BELAKANG
Tugas perpustakaan adalah mengumpulkan, mengolah dan menyebarluaskan informasi tercetak dan non cetak kepada pengguna. Perpustakaan sebagai pusat informasi dituntut selalu siap memberikan pelayanan kepada pengguna. Hal tersebut tercapai jika perpustakaan memiliki sarana yang baik, salah satunya adalah dengan adanya sebuah gedung yang bisa memuat seluruh kegiatan perpustakaan tanpa mengesampingkan kenyamanan pengguna. Dalam konteks pelayanan prima, maka perpustakaan mutlak memberikan kepuasan kepada penggunanya karena produk dari perpustakaan adalah jasa. Kepuasan pengguna merupakan hal yang abstrak namun dapat diukur dengan indikator pengukur kepuasan. Salah satu indikatornya adalah minimnya keluhan pengguna terhadap pelayanan perpustakaan.
Infrastruktur yang representatif, aman dan nyaman menjadi kriteria ideal bagi terciptanya kepuasan pengguna. Dapat dibayangkan betapa sulitnya menciptakan suasana yang nyaman untuk membaca jika ruangan perpustakaan memiliki tingkat pencahayaan yang kurang dan tingkat kelembaban yang tinggi serta penataan ruangan yang tidak teratur. Kondisi tersebut tidak menunjang pengguna dalam membangun konsentrasi membaca. Sebaliknya, apabila ruangan tertata secara rapi dan sistematis dengan pencahayaan dan kelembaban yang cukup sehingga pengguna merasa nyaman. Maka dengan sendirinya kepuasan tersebut akan tercipta. Untuk mewujudkan hal tersebut maka diperlukan tinjauan yang menelaah beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam menata ruangan atau desain interior perpustakaan.


II.      PEMBAHASAN
Perpustakaan menurut Sulistyo Basuki (1993 : 3) adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca bukan untuk dijual.
Menurut Sulistyo Basuki (1992 : 115), perpustakaan merupakan ruangan dengan beragam pola aktifitas pemakainya. Untuk itu dalam perancangannya harus melihat akan kebutuhan pemakai. Gedung perpustakaan sebagai pusat informasi bagi pemakainya, perlu memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan aktifitas pemakai sebagai berikut :
1.      Pemecahan sebaik mungkin menyangkut kebutuhan unit informasi;
2.      Kemudahan akses dalam informasi;
3.      Ruang kerja yang cukup dan terencana bagi staf dan pemakai;
4.      Mempertimbangkan kebutuhan di masa yang akan datang;
5.      Menghindari perlengkapan yang tidak perlu; dan
6.      Fasilitas tehnis yang cukup seperti penerangan, suhu, sarana komunikasi.
Ruangan menurut Ching dalam Irhamni (2005 : 10) adalah salah satu aspek dari desain interior. Sedangkan istilah desain interior itu sendiri dipakai untuk mendeskripsikan rancangan-rancangan yang saling menghubungkan di suatu kelompok, termasuk pembuatan tata ruang yang didesain sesuai dengan aktifitas manusia di dalam ruangan tersebut.
Syarat sebuah ruangan menurut Ishar dari Maryuli (2000 : 19) adalah :
1.      Syarat fisik, merupakan syarat ukuran luas dan tinggi ruang untuk memenuhi kegiatan tertentu.
2.      Syarat psikis, yaitu syarat suasana / kesan lingkungan ruang yang harus diciptakan menurut kebutuhan dan fungsinya seperti ventilasi, pemandangan luar, serta bentuk ruang.
Aspek tata ruang menurut Darmono (2000 : 201) meliputi :
a.       Aspek fungsional. Penataan yang fungsional dapat diciptakan jika antar ruangan mempunyai hubungan yang fungsional dan arus barang / bahan pustaka pengguna perpustakaan dapat mengalir dengan lancar.
b.      Aspek psikologi pengguna. Penataan ruang dapat mempengaruhi aspek psikologis pengguna merasa nyaman, leluasa bergerak dan merasa tenang. Kondisi ini dapat diciptakan dengan penataan ruang yang harmonis dan serasi termasuk dalam hal penataan perabot perpustakaan. Pemilihan warna cat dinding juga dapat mempengaruhi kenyamanan pengguna perpustakaan.
c.       Aspek estetika. Keindahan penataan ruang salah satunya dapat melalui penataan ruang dalam perabot yang digunakan. Penataan ruangan yang serasi, bersih, dan nyaman bisa mempengaruhi kenyamanan pengguna di dalam perpustakaan.
d.      Aspek keamanan bahan pustaka. Keamanan bahan pustaka dapat dikelompokkan dalam dua bagian :
1.      Faktor keamanan bahan pusataka akibat kerusakan secara alamiah
2.      Faktor kerusakan / kehilangan bahan pustaka karena faktor manusia.
Penataan ruang yang fungsional mampu menciptakan pengawasan terhadap keamanan koleksi perpustakaan. Secara langsung dari kerusakan faktor manusia. Menurut Dritagalih Maryuli (2000 : 34) dalam penataan ruang perpustakaan yang baik seharusnya mempertimbangkan aspek-aspek tertentu yaitu :
a.       Bentuk ruang;
b.      Warna dan penerangan (pencahayaan);
c.       Ventilasi;
d.      Rambu ruang; dan
e.       Perabot ruang.

Menurut Sachari (1986 : 183) menyatakan bahwa antara desain dan manusia terjadi interaksi, dalam desain berfungsi sebagai alat yang mengandung nilai kegunaan yang mengacu ke arah fungsi, keselamatan, kenyamanan, keamanan, dan efisiensi. Sedangkan manusia memanfaatkan desain sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan.
Menurut Satwiko (2005 : 16), kenyamanan dan perasaan nyaman adalah penilaian komprehensif seseorang terhadap lingkungan. Oleh karena itu kenyamanan tidak dapat diwakili oleh satu angka tunggal. Kenyamanan merupakan sesuatu yang menyejukkan dan menyegarkan perasaan seseorang. Apabila dikaitkan dengan ruangan perpustakaan, seseorang yang merasa nyaman dapat dilihat dari berapa lama orang itu melakukan aktifitas di ruang perpustakaan dan seberapa besar intensitas kunjungan ke ruang layanan tersebut. Jika merujuk pada pendapat di atas, desain interior berperan sebagai alat yang menjembatani antara perpustakaan dan pengguna.
Maksud dan tujuan desain interior yang pada mulanya hanya menitikberatkan fungsi semata-mata, tetapi kemudian berkembang dengan jangkauan lebih luas yang mencakup semua unsur keindahan berbagi macam aspek untuk memberikan kepuasan fisik dan spiritual bagi seseorang yang masuk keruangan tersebut. Perancang menciptakan suasana interior sedemikian rupa sehingga mampu memberikan kenyamanan, keamanan serta menimbulkan rasa betah kepada penggunanya.
Perancangan desain interior harus memiliki kerjasama yang erat dengan arsitek untuk merencanakan ruang dalam bangunan agar sesuai dengan kebutuhan dan selera penggunanya. Karakter ruangan tidak hanya ditentukan oleh dimensi fisik, tetapi juga oleh elemen-elemen seperti penerangan baik alami maupun buatan, warna, dekorasi dan perlengkapan perabotan. Dalam bidang ini perancang desain interior memegang peranan yang besar.
Faktor-faktor kepuasan pengguna yaitu, kualitas koleksi atau up date, biaya yang dibebankan kepada pemustaka, pelayanan pemberian informasi (service quality)/ kemudahan memperoleh informasi (emotional factor), kecepatan mendapatkan informasi (Irawan, 2003: 39).
Berdasarkan teori Irawan peneliti dapat mendefinisikan kepuasan sebagai hasil luaran yang dimunculkan dari diri sendiri, dari suatu proses kebutuhan yang direncanakan dan pada akhirnya terpenuhi.

III.   PENUTUP
Ruangan perpustakaan yang nyaman dan aman akan menunjang terciptanya konsentrasi baca. Dengan adanya penataan yang terstruktur dan pelayanan yang baik, maka pengguna perpustakaan akan merasa nyaman berada di perpustakaan.
 Ruangan merupakan salah satu aspek dari desain interior. Desain interior itu sendiri dipakai untuk mendeskripsikan rancangan-rancangan yang saling menghubungkan disuatu kelompok, termasuk pembuatan tata ruang.
Aspek-aspek tata ruang yang baik, akan memudahkan perpustakaan untuk mendesain sebuah ruangan yang nyaman digunakan oleh pengguna. Aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam penataan ruang adalah bentuk ruangnya, warna dan penerangannya, ventilasinya, rambu ruang, dan perabot ruang. Suatu perpustakaan hendaknya mempunyai bentuk ruangan yang ideal sehingga kegiatan perpustakaan dapat berlangsung lancar.
Desain ruangan berperan sebagai stimulus, apabila desain interior mampu menarik perhatian dan kebutuhan psikologis pengguna, maka pengguna akan memanfaatkan ruang perpustakaan sebagaimana fungsinya.

IV.   DAFTAR PUSTAKA
1.        Sunarti. 2007. Tata Ruang Perpustakaan Prodi Keperawatan Magelang Ditnjau Dari Tanggapan Pemakai. Semarang : Universitas Diponegoro
2.        Admin. 2009. Tinjauan Dalam Menata Ruangan Perpustakaan. Diakses pada tanggal 13 Oktober 2010, pada pukul 22.00 WIB
3.        http://praboto.wordpress.com. 2008. Desain Perpustakaan. Diakses pada tanggal 12 Oktober 2010, pada pukul 22.00 WIB